Review Film The Handmaiden. Film The Handmaiden yang dirilis pada 2016 menjadi salah satu karya masterpiece sutradara Park Chan-wook, yang kembali dengan gaya khasnya setelah trilogi balas dendam. Diadaptasi longgar dari novel Fingersmith karya Sarah Waters dengan latar dipindah ke Korea era pendudukan Jepang, cerita ini mengikuti Sook-hee, pelayan muda yang direkrut penipu untuk bantu curi harta warisan Lady Hideko yang kaya tapi terisolasi. Dengan durasi 145 menit, The Handmaiden memadukan thriller erotis, plot twist brilian, dan visual memukau hingga jadi salah satu film Korea paling dipuji internasional, masuk kompetisi Cannes dan meraih banyak penghargaan. MAKNA LAGU
Plot Berlapis dengan Twist Mengguncang: Review Film The Handmaiden
Cerita dibagi tiga bagian dari perspektif berbeda, membuat plot terasa seperti puzzle yang semakin jelas sekaligus mengejutkan. Awalnya seperti drama penipuan klasik: Count Fujiwara rekrut Sook-hee untuk jadi pelayan Hideko agar bisa nikahi dan ambil hartanya. Saat Sook-hee mulai dekat dengan Hideko, hubungan mereka berubah jadi sesuatu yang lebih dalam dan tak terduga. Twist di bagian kedua dan ketiga benar-benar mengubah pemahaman penonton terhadap segalanya—dari motif karakter hingga siapa yang sebenarnya manipulasi siapa. Park Chan-wook pintar mainkan ekspektasi, ubah tone dari erotis romantis jadi thriller gelap dengan akhir yang memuaskan dan empowering. Plot ini bukan sekadar shock value, tapi cerdas dan terstruktur sempurna.
Visual Memesona dan Erotisme Artistik: Review Film The Handmaiden
The Handmaiden terkenal dengan sinematografi indah yang jadi karakter sendiri. Rumah besar Hideko yang campur arsitektur Jepang dan Barat difilmkan dengan simetri obsesif, long take memukau, dan warna saturasi tinggi yang bikin setiap frame seperti lukisan. Adegan erotis—yang cukup eksplisit—disajikan artistik dan sensual, bukan vulgar, fokus pada chemistry dan kekuasaan antar karakter. Park Chan-wook pakai cermin, bayangan, dan ruang terbatas untuk simbol manipulasi dan hasrat terpendam. Musik klasik dan suara ambient memperkuat nuansa misterius, membuat film ini visual feast yang tak membosankan meski durasi panjang.
Akting Brilian dan Tema Mendalam
Kim Min-hee sebagai Hideko memberikan performa luar biasa: dari gadis rapuh jadi wanita kuat dengan lapisan emosi kompleks. Kim Tae-ri debut memukau sebagai Sook-hee yang licik tapi tulus, sementara Ha Jung-woo karismatik sebagai Count yang licin. Cho Jin-woong sebagai paman Hideko bawa aura menyeramkan yang bikin merinding. Chemistry antar aktor, terutama Kim Min-hee dan Kim Tae-ri, terasa intens dan autentik, membuat adegan intim mereka powerful dan emosional. Tema utama seputar penipuan, hasrat terlarang, kekuasaan patriarki, dan pembebasan perempuan disampaikan tajam, dengan kritik terhadap kolonialisme Jepang dan obsesi pria atas kontrol wanita.
Kesimpulan
The Handmaiden adalah thriller erotis yang brilian dan multilayer, dengan plot twist cerdas, visual memukau, dan akting top yang bikin penonton terpaku. Park Chan-wook berhasil ubah cerita Inggris jadi komentar sosial Korea yang kuat, tanpa kehilangan esensi sensual dan misterius. Meski adegan erotis dan kekerasannya mungkin terlalu intens bagi sebagian, itu justru jadi kekuatan untuk sampaikan tema pembebasan dan manipulasi. Film ini pantas jadi salah satu terbaik dekade 2010-an, wajib tonton bagi pecinta thriller psikologis yang suka digugat pikiran dan perasaan. The Handmaiden bukan sekadar film cantik—ia adalah pengalaman sinema yang meninggalkan bekas lama, membuktikan Park Chan-wook tetap raja gaya dan substansi.

