Review Film In a Violent Nature: Hutan Mematikan. In a Violent Nature (2024), karya debut panjang sutradara Chris Nash, telah menjadi salah satu film slasher paling dibicarakan dan kontroversial sejak tayang perdana di festival internasional tahun lalu dan rilis terbatas di bioskop serta platform streaming pada 2024–2025. Film berdurasi 94 menit ini mengambil pendekatan sangat berbeda dari slasher konvensional: hampir seluruh cerita diceritakan dari perspektif first-person killer (point-of-view pembunuh), dengan kamera mengikuti sosok undead bernama Johnny yang bangkit dari kubur setelah rantai yang mengikatnya dicuri oleh sekelompok remaja. Hingga awal 2026, film ini masih sering disebut sebagai salah satu eksperimen paling ekstrem dalam subgenre slasher modern, terutama karena minim dialog, tempo sangat lambat, dan kekerasan yang ditampilkan secara klinis serta tanpa musik latar yang memanipulasi emosi. INFO CASINO
Pendekatan Naratif yang Radikal: Review Film In a Violent Nature: Hutan Mematikan
Cerita In a Violent Nature sangat sederhana: sekelompok remaja menemukan rantai tua di hutan, salah seorang membawanya pulang, dan malam itu sosok Johnny (pembunuh undead) bangkit untuk mengambil kembali rantainya sambil membantai siapa saja yang menghalangi. Tidak ada backstory panjang, tidak ada monolog villain, tidak ada jump scare klasik. Hampir 80% film mengikuti Johnny berjalan perlahan melalui hutan, mencari korban dengan langkah mantap dan tanpa emosi.
Pendekatan ini membuat penonton merasa seperti berada di balik mata pembunuh—perspektif yang jarang digunakan secara konsisten selama hampir seluruh durasi film. Tidak ada cut cepat atau musik menegangkan; hanya suara alam (daun berderak, ranting patah, napas berat Johnny) dan keheningan yang panjang. Ketika kekerasan terjadi, ia ditampilkan secara langsung dan tanpa potongan cepat: kapak menghantam, gergaji memotong, tubuh robek—semua dengan detail klinis yang membuat penonton tidak bisa mengalihkan pandang.
Visual dan Atmosfer yang Dingin: Review Film In a Violent Nature: Hutan Mematikan
Sinematografi oleh Jeff Maher menggunakan lensa wide-angle dan tracking shot panjang untuk menciptakan rasa isolasi dan ketidakberdayaan. Hutan Kanada yang menjadi lokasi utama difilmkan dengan cahaya alami, warna-warna hijau gelap dan abu-abu yang dingin, tanpa filter hangat atau efek dramatis. Tidak ada skor musik orisinal; hanya ambience alam dan suara kekerasan yang sangat realistis. Pendekatan ini membuat kekerasan terasa lebih “nyata” dan kurang glorifikasi dibandingkan slasher tradisional—penonton dipaksa menyaksikan tanpa bantuan musik untuk “mengatur” emosi.
Tema dan Pengaruh yang Mengganggu
Film ini sengaja menolak narasi moral konvensional slasher (remaja nakal dihukum karena seks atau narkoba). Tidak ada penjelasan mengapa Johnny bangkit; ia hanya ada sebagai kekuatan alam yang tak terbendung. Tema utamanya adalah kekerasan sebagai bagian alami dari dunia—seperti pohon tumbang atau binatang mati di hutan—tanpa penilaian moral. Beberapa kritikus menyebutnya sebagai “anti-slasher” karena menghilangkan hampir semua elemen hiburan konvensional: tidak ada humor, tidak ada final girl yang heroik, tidak ada twist besar. Yang tersisa hanyalah pengamatan dingin terhadap kekerasan dan kehancuran.
Kesimpulan
In a Violent Nature adalah film yang radikal, dingin, dan sangat mengganggu—menyajikan slasher dari perspektif yang belum pernah dilakukan secara konsisten sebelumnya. Chris Nash berhasil menciptakan karya yang minimalis namun sangat kuat secara visual dan atmosferik, dengan kekerasan yang ditampilkan tanpa filter atau manipulasi emosional. Penampilan para aktor (terutama Ry Barrett sebagai Johnny) lebih bergantung pada gerakan tubuh daripada dialog, dan itu justru membuat film terasa lebih mencekam. Bagi penggemar slasher tradisional, film ini mungkin terasa lambat dan membosankan; tapi bagi yang menyukai eksperimen genre seperti The Blair Witch Project atau Hereditary, In a Violent Nature adalah karya yang wajib ditonton. Hingga 2026, film ini tetap menjadi salah satu contoh paling ekstrem bagaimana slasher bisa diubah menjadi pengalaman kontemplatif tentang kekerasan dan kematian—tanpa musik dramatis, tanpa moralitas murahan, hanya hutan, darah, dan langkah mantap seorang pembunuh yang tidak pernah berhenti. Sebuah film yang tidak mudah dilupakan, dan itulah kekuatannya.
