Review Film Impetigore: Misteri Desa yang Menyeramkan. Impetigore (Perempuan Tanah Jahanam, 2019) karya Joko Anwar tetap menjadi salah satu film horor Indonesia paling ikonik dan menyeramkan hingga kini. Hampir enam tahun berlalu, film ini masih sering ditonton ulang karena perpaduan sempurna antara horor psikologis, misteri budaya, dan kritik sosial yang tajam. Dengan rating 6.6/10 di IMDb dan status film horor Indonesia terlaris sepanjang masa saat rilis, Impetigore berhasil membawa genre horor Tanah Air ke level internasional—bahkan diputar di festival film besar seperti Sitges dan Bucheon. Cerita tentang Maya yang kembali ke desa asal ibunya untuk mencari warisan, lalu menemukan rahasia kelam desa itu, bukan sekadar horor biasa—ia adalah potret gelap tentang kutukan keluarga, tradisi yang menyimpang, dan harga yang harus dibayar atas masa lalu. ULAS FILM
Plot yang Mencekam dan Penuh Lapisan di Film Impetigore: Review Film Impetigore: Misteri Desa yang Menyeramkan
Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) adalah dua sahabat yang hidup susah di kota. Maya mendapat surat warisan dari ayahnya yang selama ini tak pernah ia temui—sebuah rumah besar di desa Harjo. Bersama Dini, ia pergi ke desa tersebut dengan harapan bisa menjual rumah untuk membayar utang. Namun begitu tiba, penduduk desa menyambut mereka dengan sikap aneh: ramah di permukaan, tapi penuh rahasia dan tatapan curiga. Semakin lama tinggal, Maya menyadari desa itu menyimpan kutukan: anak-anak perempuan lahir tanpa kulit (impetigo parah) dan meninggal muda. Maya mulai curiga bahwa rahasia itu terkait dengan ibunya sendiri. Film ini pintar membangun misteri secara perlahan—dari ketakutan kecil seperti suara aneh di malam hari, hingga pengungkapan besar yang melibatkan tradisi ritual dan pengorbanan. Endingnya dingin, pahit, dan sangat membekas, membuat penonton tidak hanya takut tapi juga merasa sesak oleh rasa bersalah kolektif desa tersebut.
Penampilan Tara Basro dan Atmosfer yang Menekan di Film Impetigore: Review Film Impetigore: Misteri Desa yang Menyeramkan
Tara Basro memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Maya—wanita kota yang awalnya polos, lalu perlahan terjebak dalam ketakutan dan kemarahan. Ekspresi wajahnya saat menyadari kebenaran sangat kuat dan meyakinkan. Marissa Anita sebagai Dini juga luar biasa: setia, lucu, tapi akhirnya menjadi korban yang paling tragis. Pemain pendukung seperti Dimas Danang, Asmara Abigail, dan Ario Bayu memberikan warna lokal yang pas tanpa berlebihan. Atmosfer desa dibangun dengan sangat efektif: rumah-rumah kayu yang gelap, suara gamelan yang mencekam, dan pencahayaan minim yang membuat setiap sudut terasa mengancam. Sound design-nya sangat mengganggu—suara anak menangis, langkah kaki di malam hari, dan gamelan yang terdistorsi membuat bulu kuduk berdiri tanpa perlu jumpscare murahan.
Tema yang Tajam dan Relevan
Impetigore bukan sekadar film horor—ia adalah kritik sosial terhadap tradisi yang menyimpang, patriarki, dan sikap masyarakat yang menutup mata terhadap kekerasan demi menjaga “kehormatan desa”. Film ini juga menyentuh isu kutukan keluarga dan rasa bersalah yang diturunkan lintas generasi. Joko Anwar pintar menggunakan elemen budaya Jawa (seperti wayang dan ritual) untuk memperkuat cerita tanpa terasa memaksa. Pesan akhirnya pahit: terkadang kebenaran lebih menyakitkan daripada kebohongan, dan penebusan dosa tidak selalu membawa kedamaian.
Kesimpulan
Impetigore adalah film horor Indonesia yang langka: menyeramkan tanpa bergantung pada jumpscare, menyentuh tanpa terasa manipulatif, dan cerdas tanpa menghakimi. Penampilan luar biasa Tara Basro, arahan Joko Anwar yang presisi, dan atmosfer desa yang mencekam membuat film ini tetap relevan hingga sekarang. Jika kamu mencari horor yang membuatmu takut sekaligus berpikir tentang ketidakadilan dan kutukan keluarga, Impetigore adalah pilihan tepat. Film ini tidak memberikan akhir bahagia—ia justru meninggalkan rasa sesak dan pertanyaan yang menggantung. Nonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali menonton ulang, kamu akan menemukan detail baru yang semakin mengganggu. Impetigore bukan sekadar film horor; ia adalah potret gelap tentang warisan dosa, cinta orang tua yang salah arah, dan harga yang harus dibayar masyarakat atas tradisi yang menyimpang.

