review-film-eternals

Review Film Eternals

Review Film Eternals. Empat tahun setelah rilis, “Eternals” masih jadi film paling kontroversial di jagad superhero. Tayang November 2021, disutradarai Chloé Zhao yang baru saja raih Oscar lewat Nomadland, film ini langsung dapat dua rekor sekaligus: rating terendah di Rotten Tomatoes untuk film MCU (47%) dan salah satu yang paling dibela penggemar karena ambisinya. Dengan durasi 156 menit dan cast bintang seperti Gemma Chan, Richard Madden, Angelina Jolie, Salma Hayek, Kumail Nanjiani, sampai Ma Dong-seok, “Eternals” janjikan sesuatu yang beda: bukan cuma pukul-pukulan, tapi soal eksistensi, cinta, dan pengkhianatan selama 7000 tahun. Hingga akhir 2025, film ini tetap jadi bahan diskusi: terlalu berani atau terlalu berantakan? BERITA BOLA

Cerita yang Terlalu Banyak Ingin Diceritakan: Review Film Eternals

Sepuluh makhluk abadi dikirim ke Bumi oleh Celestial raksasa bernama Arishem untuk lindungi manusia dari monster Deviant. Selama ribuan tahun mereka jadi legenda – Gilgamesh, Ikaris, Thena, Kingo, Sprite, Phastos, Makkari, Druig, Sersi, dan Ajak – tapi dilarang campur tangan urusan manusia. Sampai tiba-tiba Deviant berevolusi, dan mereka harus berkumpul lagi.

Plotnya berjalan dua jalur: masa lalu di Babilonia, Mesopotamia, hingga Hiroshima, dan masa kini saat Emergence (kelahiran Celestial baru yang akan hancurkan Bumi) makin dekat. Twist terbesar adalah Ikaris ternyata sudah tahu rencana Arishem sejak lama, dan Ajak mati lebih awal dari dugaan. Hasilnya, film ini terasa seperti drama keluarga yang kebetulan pakai kostum superhero – banyak dialog filosofis, flashback panjang, dan pertanyaan “kenapa kita ada di sini?”

Penampilan Aktor dan Representasi yang Berani: Review Film Eternals

Gemma Chan sebagai Sersi bawa kehangatan yang pas sebagai pusat cerita, Richard Madden jadi Ikaris yang dingin tapi rapuh di dalam. Angelina Jolie sebagai Thena yang alami gangguan mental (Mahd Wy’ry) bikin penonton kasihan sekaligus takut. Kumail Nanjiani sebagai Kingo curi tawa lewat humor Bollywood-nya, sementara Ma Dong-seok sebagai Gilgamesh bawa kekuatan sekaligus kelembutan – adegan ia masak bareng Thena jadi salah satu momen paling hangat.

Film ini juga jadi yang pertama di MCU punya superhero gay (Phastos), superhero tuli (Makkari), dan ciuman sesama jenis – langkah berani yang langsung dapat pujian sekaligus kritik di beberapa negara. Sayangnya, karena terlalu banyak karakter, beberapa seperti Druig dan Sprite terasa kurang dieksplor.

Visual Epik dan Ritme yang Berat

Chloé Zhao bawa gaya sinematiknya: banyak shot matahari terbenam, pantai, gunung – terasa seperti dokumenter National Geographic yang kebetulan ada laser dan makhluk raksasa. Efek Celestial dan Emergence memang megah, terutama saat Tiamut muncul dari laut. Tapi justru itu yang bikin masalah: film ini terlalu indah untuk aksi cepat, dan terlalu lambat untuk blockbuster biasa. Adegan pertarungan Deviant sering terasa gelap dan membingungkan, sementara dialog panjang di tengah kiamat bikin beberapa penonton menguap.

Kesimpulan

“Eternals” adalah eksperimen berani yang berhasil separuh. Ia punya visual terbaik di MCU fase 4, representasi paling inklusif, dan pertanyaan filosofis yang jarang ditanya di film superhero. Tapi juga punya pacing lambat, terlalu banyak karakter, dan akhir yang terasa terburu-buru. Empat tahun kemudian di akhir 2025, film ini lebih dihargai sebagai karya Chloé Zhao ketimbang film MCU biasa – bukan yang paling seru, tapi yang paling beda. Kalau kamu suka drama keluarga dengan ledakan sesekali, ini layak ditonton ulang. Kalau cuma mau pukul-pukulan, mungkin lewatkan saja. Pada akhirnya, “Eternals” bukti bahwa terkadang berani gagal itu lebih berharga daripada aman-aman saja.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *