Review Film Darkest Hour. Film Darkest Hour karya Joe Wright yang tayang pada 2017 terus menjadi salah satu potret kepemimpinan paling kuat dan sering dibahas ulang pada 2026 ini, terutama di tengah berbagai krisis global yang menuntut keputusan sulit dari pemimpin dunia. Berlatar Mei 1940, ketika Inggris menghadapi ancaman invasi Nazi setelah jatuhnya Prancis, film ini mengisahkan tiga minggu pertama Winston Churchill sebagai perdana menteri, saat ia harus memilih antara negosiasi damai dengan Hitler atau melanjutkan perlawanan meski tampak mustahil. Gary Oldman memberikan penampilan transformasional sebagai Churchill, didukung ensemble solid seperti Kristin Scott Thomas sebagai istrinya Clementine dan Ben Mendelsohn sebagai Raja George VI. Dengan skenario tajam dari Anthony McCarten dan arahan Wright yang penuh nuansa, karya ini mengubah periode sejarah yang kritis menjadi drama manusiawi yang tegang dan menginspirasi. Di masa ketika kepemimpinan sering diuji oleh ketidakpastian dan tekanan publik, pesan film tentang keberanian mengambil risiko demi prinsip terasa sangat relevan, mengingatkan bahwa sejarah besar sering ditentukan oleh keputusan individu di saat-saat paling gelap. REVIEW KOMIK
Sinopsis dan Ketegangan Politik Mei 1940: Review Film Darkest Hour
Darkest Hour membuka dengan kekacauan politik di Westminster ketika Neville Chamberlain mengundurkan diri dan Churchill, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai figur kontroversial dan tidak stabil, akhirnya diangkat menjadi perdana menteri. Ia langsung menghadapi tekanan luar biasa: pasukan Sekutu terjebak di Dunkirk, Prancis hampir menyerah, dan sebagian besar kabinet serta parlemen mendorong negosiasi melalui Italia Mussolini untuk menghindari kehancuran total. Churchill menolak keras ide tersebut, percaya bahwa menyerah hanya akan menunda kekalahan, sementara perlawanan memberi kesempatan untuk bertahan dan membalikkan keadaan. Film ini menyoroti pertemuan-pertemuan rahasia di ruang perang bawah tanah, perdebatan sengit di ruang kabinet, serta momen pribadi ketika Churchill ragu-ragu di tengah kritik pedas dari rekan-rekannya. Klimaks emosional datang pada pidato terkenal “We shall fight on the beaches” yang disiarkan ke parlemen dan rakyat, sebuah momen yang mengubah semangat bangsa dari ketakutan menjadi tekad. Narasi berjalan dengan ritme cepat namun penuh jeda reflektif, membuat penonton merasakan bobot setiap keputusan di tengah ancaman eksistensial yang nyata.
Penampilan Gary Oldman yang Transformasional: Review Film Darkest Hour
Gary Oldman menghidupkan Winston Churchill dengan kedalaman luar biasa, melalui prostetik yang mengubah fisiknya sepenuhnya serta penguasaan suara serak, gerakan lambat, dan ekspresi wajah yang mencerminkan campuran antara kegigihan, keraguan, dan humor gelap. Ia berhasil menangkap esensi Churchill sebagai pria yang penuh kontradiksi: pemabuk, emosional, namun juga visioner yang mampu melihat lebih jauh dari orang-orang di sekitarnya. Kristin Scott Thomas sebagai Clementine memberikan penampilan halus namun kuat, menjadi suara hati nurani dan pendukung setia yang mengingatkan suaminya untuk tetap manusiawi di tengah tekanan. Ben Mendelsohn sebagai Raja George VI tampil dengan keraguan yang relatable, menunjukkan transisi dari ketidaknyamanan awal menjadi kepercayaan penuh terhadap Churchill. Pemeran pendukung seperti Ronald Pickup sebagai Chamberlain dan Stephen Dillane sebagai Viscount Halifax menambah lapisan konflik internal dalam pemerintahan, menciptakan dinamika yang kaya di mana setiap karakter mewakili pandangan berbeda tentang masa depan bangsa. Penampilan mereka secara keseluruhan tidak berlebihan, melainkan autentik, membuat tokoh-tokoh sejarah terasa seperti manusia biasa yang sedang menghadapi momen paling menentukan dalam hidup mereka.
Arahan Joe Wright dan Tema Kepemimpinan di Saat Krisis
Joe Wright menyutradarai dengan gaya visual yang elegan namun tidak mengganggu, menggunakan pencahayaan dramatis untuk menangkap suasana gelap bunker perang serta kontras dengan cahaya alami di luar, menciptakan nuansa ketegangan konstan. Ia juga memanfaatkan musik Dario Marianelli yang halus untuk memperkuat emosi tanpa mendominasi, sementara montase Dunkirk yang singkat namun efektif mengingatkan penonton akan taruhan nyata dari keputusan politik. Tema utama film ini adalah bagaimana kepemimpinan sejati muncul di saat paling gelap, ketika mayoritas memilih jalan mudah namun seorang pemimpin berani memilih perlawanan demi nilai-nilai yang lebih besar. Wright menyoroti peran retorika Churchill sebagai senjata utama, di mana kata-kata bisa mengubah nasib bangsa, serta pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat dalam menjaga kewarasan pemimpin. Di tengah krisis kontemporer yang menuntut keputusan tegas dari pemimpin dunia, pesan ini terasa sangat tepat waktu, mengingatkan bahwa keberanian moral sering kali lebih penting daripada strategi militer semata, dan bahwa sejarah menghargai mereka yang memilih bertahan meski peluang tampak tipis.
Kesimpulan
Darkest Hour tetap menjadi salah satu film sejarah paling menggugah dalam satu dekade terakhir, dengan kekuatan utama pada penampilan legendaris Gary Oldman, skenario cerdas, dan arahan Joe Wright yang berhasil mengubah periode krisis menjadi drama pribadi yang mendalam. Meski berlatar delapan dekade lalu, film ini berhasil menangkap esensi kepemimpinan di tengah ketidakpastian yang masih sangat relevan hari ini, ketika dunia menghadapi berbagai ancaman yang memerlukan keberanian dan visi jangka panjang. Karya ini bukan sekadar penghormatan kepada Winston Churchill, melainkan pengingat universal bahwa satu individu dengan tekad kuat bisa mengubah arah sejarah ketika yang lain menyerah. Bagi siapa saja yang menghargai cerita tentang ketangguhan manusia di saat paling suram, film ini adalah tontonan esensial yang meninggalkan rasa kagum sekaligus inspirasi untuk menghadapi tantangan dengan semangat yang sama. Di era yang penuh ketidakpastian, Darkest Hour berfungsi sebagai mercusuar yang menegaskan bahwa bahkan di jam-jam tergelap, harapan bisa lahir dari keberanian untuk terus berjuang.
