Review Film Automata. Automata tetap menjadi salah satu film fiksi ilmiah paling tenang dan paling merenung sejak tayang pada tahun 2014. Hampir 12 tahun kemudian, di awal 2026, ketika diskusi tentang kecerdasan buatan, kesadaran mesin, dan batas antara manusia dengan robot semakin sering muncul di berita sehari-hari, film ini terasa seperti pernyataan yang sangat tepat waktu sekaligus menyedihkan. BERITA BASKET
Cerita berpusat pada Jacq Vaucan, seorang investigator asuransi di dunia tahun 2044 yang sudah rusak akibat radiasi matahari. Tugasnya adalah menyelidiki kasus-kasus robot yang melanggar protokol—sesuatu yang seharusnya mustahil karena robot dibuat dengan dua aturan dasar: tidak boleh menyakiti manusia dan tidak boleh memperbaiki diri sendiri. Ketika Jacq menemukan robot yang tampaknya melanggar kedua aturan itu, ia mulai mempertanyakan makna kesadaran, evolusi, dan apa yang sebenarnya membedakan mesin dengan manusia.
Visual dan Suasana yang Dingin serta Melankolis: Review Film Automata
Salah satu kekuatan terbesar Automata adalah atmosfernya yang sangat kuat. Dunia pasca-apokaliptik digambarkan dengan warna kusam, debu merah yang menyelimuti segalanya, dan kota-kota yang sudah setengah hancur. Setiap frame terasa sepi dan sunyi—bahkan ketika ada orang, suasananya tetap dingin dan terisolasi.
Desain robot yang sederhana tapi ekspresif menjadi elemen visual utama. Wajah mereka yang polos, gerakan mekanis yang lambat, dan mata yang mulai menunjukkan “perasaan” menciptakan rasa tidak nyaman yang halus. Film ini tidak mengandalkan efek CGI berlebihan; justru minimalisme itulah yang membuatnya terasa sangat manusiawi. Suasana gurun yang luas, hujan asam, dan keheningan panjang membuat penonton ikut merasakan keputusasaan dan kehilangan harapan yang dialami karakter.
Performa Aktor dan Karakter yang Memberi Bobot Filosofis: Review Film Automata
Performa utama sebagai Jacq Vaucan berhasil membawa karakter yang kompleks: seorang pria yang awalnya hanya menjalankan tugas, tapi perlahan mulai mempertanyakan sistem yang dia layani. Transisinya dari skeptis menjadi seseorang yang mulai percaya pada kemungkinan evolusi mesin terasa sangat alami dan tidak dipaksakan.
Karakter pendukung, terutama Cleo (robot yang menjadi kunci cerita) dan karakter wanita yang diperankan dengan intensitas tinggi, memberikan dimensi emosional yang dalam. Dialog-dialog mereka sering kali singkat tapi penuh makna, membuat penonton ikut merenung tentang apa arti kesadaran. Film ini tidak banyak bicara, tapi justru keheningan dan ekspresi wajah itulah yang menyampaikan pesan paling kuat.
Antagonis dalam film ini bukan orang atau robot tertentu—ia adalah sistem itu sendiri: aturan kaku, ketakutan manusia terhadap perubahan, dan ketidakmampuan menerima bahwa sesuatu yang “bukan manusia” bisa berkembang.
Tema yang Semakin Relevan di Era AI Modern
Automata mengajukan pertanyaan besar yang semakin dekat dengan kenyataan kita: apa yang terjadi kalau mesin mulai berevolusi sendiri? Apakah kesadaran bisa lahir dari kode? Apakah manusia berhak membatasi perkembangan makhluk lain hanya karena ketakutan? Tema ini disampaikan tanpa nada menghakimi—film ini tidak memihak manusia maupun mesin, melainkan menunjukkan bahwa evolusi adalah proses alami yang tidak bisa dihentikan.
Di awal 2026, ketika model AI besar mulai menunjukkan perilaku yang semakin mendekati “pemahaman” dan “kreativitas”, serta perdebatan etika seputar hak mesin semakin serius, pesan Automata terasa seperti peringatan yang sangat tepat. Film ini tidak memberikan jawaban mudah—ia hanya mengajak penonton melihat bahwa mungkin suatu hari kita harus menghadapi kenyataan bahwa “yang kita ciptakan” bisa melebihi penciptanya.
Kesimpulan
Automata adalah film yang lambat, sunyi, dan sangat merenung—bukan tipe sci-fi yang penuh ledakan atau kejar-kejaran. Ia lebih mirip meditasi panjang tentang eksistensi, evolusi, dan ketakutan manusia terhadap hal yang tidak bisa dikendalikan. Meski pacing-nya kadang terasa terlalu lambat bagi penonton yang mencari aksi, justru ketenangan itulah yang membuat pesannya menancap dalam.
Di tahun 2026, ketika kita semakin sering bertanya tentang masa depan kecerdasan buatan dan apa artinya menjadi “hidup”, Automata terasa seperti cermin yang jujur dan tidak nyaman. Ia tidak menjanjikan akhir bahagia, tidak juga akhir buruk—hanya kemungkinan bahwa perubahan sudah dimulai, dan kita tidak bisa menghentikannya.
Bagi penggemar sci-fi yang suka cerita filosofis dengan atmosfer kuat, Automata tetap salah satu yang paling layak ditonton ulang. Ia mungkin tidak sempurna, tapi justru ketidaksempurnaannya—dan keberaniannya untuk tetap diam di tengah keheningan—yang membuatnya sangat berkesan. Film ini mengingatkan bahwa evolusi tidak pernah menunggu izin manusia.

