Review Film Mad Max: Fury Road. Film Mad Max: Fury Road arahan George Miller yang rilis pada 2015 tetap jadi salah satu action masterpiece paling berpengaruh hingga 2026, terutama dengan sekuel Furiosa yang baru tayang dan langsung jadi box office hit. Dibintangi Tom Hardy sebagai Max Rockatansky dan Charlize Theron sebagai Imperator Furiosa, film ini raup lebih dari 370 juta dolar dunia dari budget 150 juta, serta sapu 6 Oscar teknis dari 10 nominasi, termasuk Best Editing dan Best Sound Mixing. Dengan durasi 120 menit yang hampir seluruhnya aksi kejar-kejaran di gurun post-apocalyptic, Fury Road ubah standar action modern dengan stunt praktis dan visi gila Miller. Review ini bahas kenapa film ini masih layak ditonton ulang sebagai salah satu yang terbaik abad 21. BERITA BASKET
Aksi Non-Stop dan Stunt Praktis yang Gila: Review Film Mad Max: Fury Road
Yang bikin Fury Road beda adalah aksi yang benar-benar non-stop—hampir 90% film adalah chase sequence di gurun dengan kendaraan modifikasi monster. George Miller pakai stunt praktis maksimal: ratusan kendaraan sungguhan, ledakan nyata, dan aktor lakukan hampir semua aksi sendiri. Adegan pole vault di mana War Boys lompat antar truk berkecepatan tinggi, atau Furiosa naik ke rig dengan tali, terasa gila tapi autentik. Tom Hardy dan Charlize Theron latihan berbulan-bulan, Charlize bahkan cukur rambut botak untuk peran. Sinematografi Seamus McGarvey dengan wide shot gurun dan kamera 360 derajat beri rasa kecepatan dan chaos yang overwhelming. Skor Junkie XL dengan drum berat dan gitar elektrik tambah intensitas seperti mesin perang. Kritik kadang bilang terlalu berisik atau plot tipis, tapi justru aksi praktis ini yang buat film terasa hidup dan tak tergantikan CGI.
Karakter Kuat dan Tema Feminis: Review Film Mad Max: Fury Road
Di balik aksi gila, Fury Road punya karakter dan tema mendalam. Max (Tom Hardy) mantan polisi yang trauma dan bicara minim, jadi sidekick Furiosa (Charlize Theron)—wanita satu lengan yang pimpin pemberontakan lawan Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Furiosa selamatkan istri-istri Joe dari perbudakan breeding, bawa mereka ke “Green Place”. Tema feminis kuat: wanita bukan objek, tapi pemberontak yang kuasai cerita—Max akhirnya ikut visi Furiosa. Karakter pendukung seperti Nux (Nicholas Hoult) yang redeem diri dari War Boy fanatik beri lapisan emosional. Dialog minim, tapi visual storytelling Miller kuat—setiap frame penuh detail dunia post-apocalyptic seperti Citadel air dan Gas Town bensin. Pesan film adalah harapan di tengah kehancuran—perubahan datang dari mereka yang berani lari dari tirani.
Warisan dan Relevansi Saat Ini
Fury Road menang 6 Oscar dari 10 nominasi, termasuk Best Director nominasi untuk Miller di usia 70-an. Rating Rotten Tomatoes 97% kritikus dan 86% audience tunjukkan apel universal. Pengaruh ke action modern besar—dari John Wick hingga Furiosa prequel yang rilis 2024. Di 2026, dengan Furiosa sukses kritik dan box office, legacy Fury Road semakin kuat sebagai film yang ubah aksi jadi seni. Kritik atas kekerasan ekstrem atau plot sederhana dibalas kekuatan visual dan tema relevan seperti eksploitasi sumber daya dan pemberontakan. Film ini bukti Miller bisa reboot franchise 30 tahun kemudian jadi lebih baik dari orisinal. Ia jadi inspirasi bahwa action bisa punya hati dan pesan tanpa hilang intensitas.
Kesimpulan
Mad Max: Fury Road adalah action masterpiece yang gabungkan stunt praktis gila, karakter kuat dipimpin Furiosa, dan tema pemberontakan feminis di dunia post-apocalyptic yang brutal. George Miller ciptakan 120 menit non-stop chase yang terasa seperti mimpi buruk indah, dengan visual ikonik dan skor memukau. Di usia lebih dari satu dekade, tetap jadi benchmark action modern—bukan karena CGI, tapi karena nyata dan berani. Sekuel Furiosa bukti warisannya hidup. Bagi penggemar action intens atau dystopia, Fury Road wajib rewatch—film yang buat “what a lovely day” jadi mantra gila tapi memorable. Fury Road ingatkan bahwa di tengah chaos, harapan datang dari mereka yang berani lari ke arah baru. Klasik abadi yang tak tergantikan.

