Review Film Kinds of Kindness: Kebaikan yang Aneh. Film Kinds of Kindness (2024) karya Yorgos Lanthimos yang tayang perdana di Festival Film Cannes Mei 2024 dan rilis luas Juni 2024, hingga Februari 2026 tetap menjadi salah satu karya paling polarisasi dan dibicarakan di kalangan penikmat film arthouse. Dengan rating rata-rata 6,5/10 dari penonton dan 73% di Rotten Tomatoes, film berdurasi 164 menit ini terdiri dari tiga cerita pendek yang saling tidak berhubungan, namun terikat oleh tema “kebaikan” yang aneh, manipulatif, dan sering kali destruktif. Dibintangi Emma Stone, Jesse Plemons, Willem Dafoe, Margaret Qualley, Hunter Schafer, dan Joe Alwyn (semua memerankan karakter berbeda di setiap segmen), Kinds of Kindness adalah antologi hitam yang penuh absurditas, kekerasan psikologis, dan humor gelap khas Lanthimos—sebuah eksplorasi tentang kontrol, kepatuhan, dan bentuk-bentuk “kebaikan” yang justru menyiksa. INFO CASINO
Struktur Tiga Segmen yang Berdiri Sendiri: Review Film Kinds of Kindness: Kebaikan yang Aneh
Film dibagi menjadi tiga cerita terpisah dengan judul masing-masing:
1.The Death of R.M.F. Robert (Jesse Plemons) adalah karyawan yang sangat patuh pada bosnya Raymond (Willem Dafoe). Raymond mengatur segala aspek hidup Robert—pakaian, makanan, hubungan seksual dengan istrinya—demi “kebaikan” Robert. Ketika Robert mulai memberontak dengan menolak perintah membunuh seorang wanita, hubungan mereka berubah menjadi permainan kekuasaan yang mengerikan. Segmen ini adalah kritik paling tajam tentang kontrol dan manipulasi yang disamarkan sebagai kepedulian.
2.R.M.F. is Flying Seorang polisi (Jesse Plemons) curiga istrinya (Emma Stone) yang selamat dari kecelakaan kapal dan hilang selama berbulan-bulan sebenarnya bukan manusia lagi, melainkan makhluk pengganti. Ia melakukan serangkaian tes aneh untuk membuktikan “keaslian” istrinya, termasuk memaksa makan daging manusia. Segmen ini penuh paranoia dan body horror ringan, mengeksplorasi tema kehilangan identitas dan ketakutan akan “yang lain”.
3.R.M.F. Eats a Sandwich Dua anggota sekte religius (Emma Stone dan Jesse Plemons) mencari wanita yang diyakini bisa menghidupkan orang mati. Perjalanan mereka penuh ritual aneh, kekerasan seksual, dan pengorbanan demi “kebaikan” yang lebih besar. Segmen penutup ini paling absurd dan gelap, mengkritik fanatisme agama dan pencarian makna hidup melalui kekerasan.
Ketiga cerita dihubungkan oleh karakter misterius bernama R.M.F. (Yorgos Stefanakos) yang muncul sekilas di setiap segmen, tapi tidak pernah berbicara—simbol bisu dari nasib manusia di bawah kekuasaan orang lain.
Performa Ensemble dan Gaya Visual Khas Lanthimos: Review Film Kinds of Kindness: Kebaikan yang Aneh
Emma Stone dan Jesse Plemons tampil luar biasa di ketiga segmen—mereka berhasil membuat setiap karakter terasa berbeda meski memerankan pasangan di setiap cerita. Stone membawa kerapuhan dan kegilaan yang kontras, sementara Plemons memberikan rasa tidak nyaman yang halus tapi menusuk. Willem Dafoe sebagai bos manipulatif dan Margaret Qualley sebagai anggota sekte juga mencuri perhatian dengan peran kecil tapi sangat mengesankan.
Gaya visual Lanthimos tetap konsisten: warna-warna dingin, komposisi simetris yang kaku, dan dialog yang kaku serta absurd. Tidak ada musik latar berlebihan; suara alam, keheningan, dan musik klasik minimalis digunakan untuk memperkuat rasa aneh dan tidak nyaman. Adegan-adegan kekerasan dan seksual dibuat sangat eksplisit tapi tidak eksploitatif—semuanya terasa bagian dari kritik sosial, bukan sensasi murahan.
Makna Lebih Dalam: Kebaikan yang Beracun dan Kontrol atas Hidup
Judul “Kinds of Kindness” adalah ironi besar: setiap segmen menunjukkan bentuk “kebaikan” yang sebenarnya adalah kontrol, manipulasi, dan kekerasan. Raymond “baik” pada Robert dengan mengatur hidupnya agar “sempurna”. Polisi “baik” pada istrinya dengan memastikan ia “benar-benar” istrinya. Sekte “baik” pada dunia dengan mencari keajaiban melalui pengorbanan.
Film ini adalah kritik terhadap bagaimana manusia sering menyamarkan kekuasaan dan ego sebagai bentuk kepedulian. Makna terdalamnya adalah bahwa “kebaikan” yang tidak diminta sering kali lebih berbahaya daripada kejahatan terbuka—karena ia menyusup ke dalam pikiran dan tubuh korban dengan dalih cinta, agama, atau perbaikan diri. Lagu ini juga menyentil tema bahwa dalam masyarakat modern, kita semua diawasi dan dikendalikan oleh “kebaikan” institusi atau orang-orang di sekitar kita.
Kesimpulan
Kinds of Kindness adalah film yang langka: gelap sekaligus lucu, aneh sekaligus sangat manusiawi, dan sangat mengganggu tanpa terasa murahan. Kekuatan utamanya terletak pada performa ensemble yang luar biasa, arahan Yorgos Lanthimos yang khas, dan tiga cerita yang saling memperkuat tema kebaikan yang beracun. Film ini berhasil menjadi antologi horor psikologis yang tidak hanya menyeramkan, tapi juga membuat penonton bertanya tentang bentuk-bentuk kontrol yang selama ini kita anggap sebagai “kebaikan”. Jika kamu mencari film yang tidak mudah dilupakan dan siap membuatmu tidak nyaman lama setelah selesai, Kinds of Kindness adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin merasakan ketidaknyamanan yang disengaja. Film ini bukan sekadar hiburan; ia adalah pengingat bahwa kadang “kebaikan” adalah bentuk kekerasan yang paling licik—dan yang paling sulit dilawan. Dan itu, pada akhirnya, adalah horor terbesar dalam kehidupan sehari-hari.
