Review Film Joker: Kegilaan yang Mengganggu. Joker, film thriller psikologis karya Todd Phillips yang dirilis pada 2019, masih menjadi pembicaraan hangat hingga awal 2026, terutama setelah sekuelnya, Joker: Folie à Deux, tayang pada 2024 dan menuai kontroversi serupa. Meskipun telah lewat lebih dari enam tahun sejak penayangan perdana di bioskop dan platform streaming seperti HBO Max, film ini sering dibahas ulang berkat eksplorasi mendalam tentang kegilaan dan ketidakadilan sosial yang terasa semakin relevan di era pasca-pandemi. Dibintangi Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck yang bertransformasi menjadi Joker, dengan pendukung seperti Robert De Niro sebagai Murray Franklin dan Zazie Beetz sebagai Sophie Dumond, Joker memenangkan dua Oscar pada 2020: Best Actor untuk Phoenix dan Best Original Score. Dengan durasi 122 menit, film ini meraup lebih dari 1 miliar dolar secara global, meski sempat diboikot karena kekhawatiran memicu kekerasan. Rating IMDb mencapai 8.3/10 dari jutaan penonton, sementara Rotten Tomatoes memberikan 69% dari kritikus dan 88% dari audiens. Di Indonesia, di mana diskusi tentang kesehatan mental semakin marak, Joker sering direkomendasikan sebagai tontonan reflektif, meski dengan peringatan atas konten disturbing-nya. Di tengah tren film superhero yang lebih ringan, Joker menonjol sebagai karakter study gelap yang mengganggu pikiran, membuatnya timeless bagi penggemar genre psikologis. INFO CASINO
Sinopsis dan Plot Utama: Review Film Joker: Kegilaan yang Mengganggu
Cerita berlatar Gotham City tahun 1980-an yang suram, di mana Arthur Fleck, seorang badut sewaan yang menderita gangguan mental, hidup dalam kemiskinan dan pengabaian. Arthur tinggal bersama ibunya yang sakit, Penny (Frances Conroy), sambil berjuang dengan tawa tak terkendali akibat kondisi neurologisnya. Plot berkembang saat Arthur kehilangan pekerjaan, obat-obatan, dan harapan setelah serangkaian penghinaan dari masyarakat—dari pemukulan di subway hingga pengkhianatan dari idolanya, pembawa acara TV Murray Franklin. Transformasinya menjadi Joker dimulai dengan pembunuhan impulsif yang memicu kerusuhan massal di Gotham, di mana ia menjadi simbol pemberontakan bagi yang tertindas. Konflik utama muncul dari penyelidikan detektif Garrity dan Burke, serta pengungkapan rahasia keluarga yang menghancurkan. Alur narasi lambat tapi membangun ketegangan, dengan klimaks di acara TV live yang berujung kekacauan. Pacing sengaja menekan, mencerminkan spiral kegilaan Arthur, meski beberapa kritikus menyebutnya predictable di akhir. Secara keseluruhan, plot ini seperti homage ke Taxi Driver dan The King of Comedy, fokus pada degradasi mental tanpa elemen superhero berlebih, membuatnya terasa seperti drama sosial daripada film komik.
Akting dan Chemistry Pemeran: Review Film Joker: Kegilaan yang Mengganggu
Joaquin Phoenix mendominasi dengan performa ikonik sebagai Arthur/Joker—ia kehilangan 23 kg untuk peran ini, menyampaikan kerapuhan dan kegilaan dengan gerakan tubuh yang aneh dan tawa haunting yang terasa nyata. Transisinya dari pria biasa menjadi villain karismatik layak Oscar, terutama di adegan tangga dansa yang viral. Robert De Niro sebagai Murray memberikan kedalaman satir, dengan chemistry tegang yang memuncak di konfrontasi akhir—seperti mentor yang salah paham. Zazie Beetz sebagai Sophie menambahkan lapisan emosional, meski perannya terbatas; interaksinya dengan Arthur terasa ambigu, memperkuat tema isolasi. Frances Conroy sebagai Penny solid dalam menggambarkan ketergantungan toksik, sementara aktor pendukung seperti Brett Cullen sebagai Thomas Wayne menambah nuansa kelas sosial. Ensemble cast ini membuat dinamika terasa hidup, tapi kritik sering jatuh pada kurangnya kedalaman karakter perempuan. Secara keseluruhan, akting menjadi kekuatan utama, dengan Phoenix sering dipuji sebagai Joker terbaik sejak Heath Ledger, membuat film ini lebih dari sekadar cerita—sebuah showcase performa yang mengganggu dan memikat.
Tema dan Elemen Visual
Joker mengeksplorasi tema kegilaan yang dipicu ketidakadilan sosial, kesehatan mental yang diabaikan, dan pemberontakan massa—Arthur mewakili yang terpinggirkan di masyarakat kapitalis, di mana orang kaya seperti Wayne digambarkan sebagai penindas. Film ini kritis terhadap media sensasional dan kegagalan sistem, tanpa menyajikan Joker sebagai hero; justru menunjukkan bagaimana kegilaan bisa menular. Elemen visual Lawrence Sher memukau dengan palet warna kusam yang mencerminkan dekadensi Gotham, dari apartemen kumuh hingga kerumunan berapi-api. Adegan ikonik seperti dansa di tangga dengan soundtrack Hildur Guðnadóttir yang cello-nya haunting memperkuat nuansa psikologis. Kekerasan digambarkan grafis tapi purposeful, memicu kontroversi tentang glorifikasi, meski Phillips bilang itu untuk menunjukkan konsekuensi. Humor hitam muncul dari absurditas hidup Arthur, sementara elemen seperti makeup Joker yang berkembang menambah simbolisme. Meski dikritik sebagai unoriginal karena mirip Scorsese, film ini berhasil menyegarkan genre dengan grounded approach. Di 2026, tema ini semakin resonan dengan isu polarisasi sosial global, membuat Joker bukan hanya hiburan, tapi cermin masyarakat yang mengganggu—lengkap dengan pesan ambigu tentang empati vs kekerasan.
kesimpulan
Joker adalah kegilaan yang mengganggu dan mendalam, ideal untuk mereka yang mencari film psikologis di tengah banjir konten superhero ringan pada 2026. Dengan plot spiral kegilaan, performa Phoenix yang legendaris, dan visual haunting, film ini layak ditonton ulang meski divisive—kekuatannya terletak pada provokasi pikiran, bukan jawaban mudah. Tema tentang mental health dan ketidakadilan membuatnya tetap relevan, terutama pasca-sekuel yang memperluas universe-nya. Jika belum lihat, ini saatnya merasakan transformasi Arthur—jaminan renungan panjang dan ketidaknyamanan setelahnya.
