Review Film It Ends With Us: Blake Lively Bikin Menangis

Review Film It Ends With Us: Blake Lively Bikin Menangis

Review Film It Ends With Us: Blake Lively Bikin Menangis. Film It Ends With Us yang tayang sejak Agustus 2024 masih menjadi salah satu drama romansa paling emosional dan ramai dibicarakan hingga awal 2026. Diadaptasi dari novel bestseller Colleen Hoover, film ini dibintangi Blake Lively sebagai Lily Bloom, Justin Baldoni sebagai Ryle Kincaid, dan Brandon Sklenar sebagai Atlas Corrigan. Dengan durasi 130 menit, film ini berhasil meraup lebih dari US$350 juta secara global dari budget sekitar US$25 juta—angka yang sangat mengesankan untuk drama romansa dewasa dengan rating PG-13. Rating Rotten Tomatoes mencapai 57% dari kritikus tapi 89% dari penonton, menunjukkan polarisasi yang kuat: kritikus merasa film ini terlalu melodramatis, tapi penonton justru terharu dan banyak yang menangis di bioskop. Apakah Blake Lively benar-benar berhasil bikin penonton menangis, atau film ini hanya drama ringan yang berlebihan? BERITA TERKINI

Narasi Emosional yang Kuat dan Tema yang Berat di Film It Ends With Us: Review Film It Ends With Us: Blake Lively Bikin Menangis

Cerita mengikuti Lily Bloom yang membuka toko bunga di Boston sambil berusaha lepas dari masa lalu keluarganya yang penuh kekerasan dalam rumah tangga. Ia bertemu Ryle, dokter saraf tampan dan karismatik yang langsung jatuh cinta padanya, tapi hubungan itu perlahan menunjukkan tanda-tanda abusive yang sama seperti yang dialami ibunya dulu. Di sisi lain, muncul kembali Atlas Corrigan, cinta pertama Lily dari masa kecil yang kini jadi restoran owner sukses. Film ini berhasil menyampaikan tema kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) dengan cara yang cukup sensitif dan realistis—tidak menghindari kekerasan fisik, tapi juga menyoroti siklus trauma, rasa malu korban, dan proses sulit untuk keluar dari hubungan abusive. Banyak adegan yang terasa sangat menyakitkan, terutama ketika Lily mulai menyadari pola yang sama dengan ibunya, dan momen ketika ia harus memilih antara cinta dan keselamatan diri serta anaknya. Pesan “it ends with us” (siklus kekerasan harus diakhiri di generasi ini) disampaikan dengan kuat tanpa terasa menggurui.

Performa Blake Lively dan Cast Utama di Film It Ends With Us: Review Film It Ends With Us: Blake Lively Bikin Menangis

Blake Lively memberikan penampilan terbaik dalam karirnya sebagai Lily Bloom. Ia berhasil membawa karakter yang lembut, penuh harapan, tapi perlahan hancur karena cinta yang salah. Ekspresi wajahnya saat menerima pukulan pertama, saat berbohong pada diri sendiri, dan saat akhirnya memutuskan pergi sangat menyentuh dan membuat banyak penonton menangis. Lively juga berhasil menunjukkan sisi kuat dan rapuh Lily dengan sangat seimbang—ia tidak jadi korban pasif, tapi perempuan yang berjuang keras untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Justin Baldoni sebagai Ryle Kincaid juga tampil sangat baik—ia berhasil membuat penonton awalnya jatuh cinta pada karakternya yang charming, lalu perlahan merasa jijik dan takut saat sisi gelapnya muncul. Brandon Sklenar sebagai Atlas memberikan kontras yang hangat dan aman—karakternya jadi representasi “cinta yang seharusnya” bagi Lily. Chemistry antara Lively dan Baldoni terasa sangat kuat di awal (romantis), lalu berubah jadi sangat tidak nyaman dan menyakitkan di babak kedua—transisi yang berhasil membuat penonton ikut merasakan konflik batin Lily.

Kelemahan Pacing dan Adaptasi

Meski emosional sangat kuat, film ini punya kelemahan di pacing yang agak tidak merata. Babak tengah terasa terlalu panjang dengan banyak adegan romansa yang berulang sebelum kekerasan muncul. Beberapa subplot (terutama masa kecil Lily dan Atlas) terasa terburu-buru dan kurang mendalam dibanding novel asli. Ada juga kritik bahwa film terlalu “lembut” dalam menampilkan kekerasan—tidak sebrutal atau se-detail novel, sehingga pesan domestic violence-nya terasa agak melemah bagi sebagian penonton. Dibandingkan adaptasi novel romansa lain seperti It Ends With Us yang lebih ringan, film ini lebih berat dan serius, tapi bagi sebagian penggemar novel, endingnya terasa kurang memuaskan dan kurang “menyembuhkan” dibanding buku.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia menyambut sangat emosional—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak penonton (terutama perempuan) yang keluar bioskop sambil menangis dan berbagi cerita pribadi di media sosial. Box office US$350 juta menunjukkan sukses komersial yang luar biasa untuk drama romansa dewasa. Di media sosial, klip adegan kekerasan dan momen Lily memutuskan pergi jadi viral, bersama banyak testimoni soal kekerasan dalam rumah tangga. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal abusive relationship, siklus kekerasan, dan pentingnya keluar dari hubungan toxic. Banyak yang bilang Blake Lively layak dapat pujian karena berhasil membuat tema berat ini terasa relatable dan tidak menghakimi.

Kesimpulan

It Ends With Us adalah drama romansa yang berhasil menyentuh hati dengan cara yang sangat kuat dan emosional. Blake Lively memberikan penampilan terbaiknya sebagai Lily—ia berhasil membuat penonton menangis dan marah sekaligus. Visual indah, performa cast solid, dan pesan tentang kekerasan dalam rumah tangga yang disampaikan dengan sensitif membuat film ini layak ditonton meski berat. Meski pacing tengah agak lambat dan adaptasi kurang sempurna dibanding novel, film ini tetap jadi salah satu drama romansa paling impactful 2025. Worth it? Ya—terutama kalau kamu siap menangis dan ingin cerita yang punya makna. Kalau suka film seperti The Notebook, Blue Valentine, atau Big Little Lies, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu dan hati yang kuat. Blake Lively bikin menangis, dan itulah yang membuat film ini spesial. Pesannya jelas: kekerasan harus berakhir di generasi ini. Film ini menyentuh—dan itulah kekuatannya.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *