review-film-deadpool-2

Review Film Deadpool 2

Review Film Deadpool 2. Film Deadpool 2 tetap menjadi salah satu sekuel paling liar dan menghibur dalam genre superhero. Dirilis pada 2018, karya Ryan Reynolds ini berhasil mempertahankan nada meta, kasar, dan penuh hati dari film pertama sambil menambah skala aksi serta kedalaman emosional yang tak terduga. Reynolds kembali sebagai Wade Wilson—merc with a mouth yang kini menghadapi kehilangan pribadi dan mencoba menjadi sosok ayah bagi seorang remaja mutant. Disutradarai David Leitch, film ini bukan sekadar komedi berdarah, melainkan cerita tentang penebusan, keluarga yang dipilih, dan penerimaan diri di tengah kekacauan. Hampir tujuh tahun kemudian, Deadpool 2 masih sering disebut sebagai salah satu film R-rated terbaik karena berhasil menyeimbangkan humor absurd dengan momen yang benar-benar menyentuh. BERITA TERKINI

Visual dan Aksi yang Kreatif serta Brutal: Review Film Deadpool 2

Salah satu kekuatan terbesar Deadpool 2 ada pada adegan aksinya yang penuh gaya dan kekerasan kartunish. Opening sequence di mana Wade mencoba bunuh diri dengan cara paling dramatis—lengkap dengan slow-motion dan lagu Celine Dion—langsung menetapkan tone film: gila, lucu, dan tak kenal ampun. Pertarungan di penjara, kejar-kejaran di jalan raya, atau klimaks di rumah sakit mental dibuat dengan koreografi yang cepat dan inventif. Penggunaan efek visual untuk regenerasi Wade, teleportasi Cable, dan kekuatan Domino yang berbasis keberuntungan terasa segar dan tidak berlebihan. Warna-warni neon di malam hari kontras dengan adegan cerah di siang hari, menciptakan estetika yang khas dan mudah dikenali. Musik yang dipilih—dari lagu-lagu klasik 80-an hingga soundtrack modern—selalu tepat waktu, memperkuat humor maupun emosi tanpa terasa dipaksakan. Semua elemen visual ini bekerja untuk membuat kekerasan terasa seperti komedi hitam, bukan gore semata.

Karakter dan Performa yang Penuh Chemistry: Review Film Deadpool 2

Ryan Reynolds sebagai Deadpool memberikan penampilan yang semakin matang—masih penuh sarkasme dan breaking the fourth wall, tapi kini ditambah lapisan kesedihan setelah kehilangan Vanessa. Ia berhasil membuat Wade terasa lebih manusiawi tanpa kehilangan esensi konyolnya. Josh Brolin sebagai Cable membawa ancaman serius dengan sikap dingin dan masa lalu yang tragis, menciptakan dinamika ayah-anak yang tak terduga dengan Wade. Zazie Beetz sebagai Domino mencuri perhatian dengan pesona santai dan kekuatan keberuntungan yang selalu tepat waktu—salah satu karakter paling menyenangkan di film ini. Julian Dennison sebagai Russell/Firefist memberikan hati yang hangat sebagai remaja yang marah dan kesepian. Morena Baccarin sebagai Vanessa, meski waktu layarnya terbatas, tetap menjadi jangkar emosional bagi Wade. T.J. Miller sebagai Weasel dan Brianna Hildebrand sebagai Negasonic Teenage Warhead kembali dengan humor khas, sementara cameos dari aktor lain menambah lapisan meta yang lucu. Seluruh cast terasa seperti keluarga disfungsi yang saling mendukung, membuat chemistry mereka terasa alami dan menghibur.

Narasi yang Menggabungkan Humor dan Emosi

Cerita Deadpool 2 berfokus pada upaya Wade membentuk tim X-Force untuk menyelamatkan seorang anak mutant dari masa depan yang kelam. Plotnya sederhana—melindungi Russell dari Cable—tapi dieksekusi dengan twist yang tak terduga, humor tak kenal ampun, dan momen emosional yang tulus. Film ini berani membahas tema kehilangan, kesehatan mental, dan pentingnya memiliki orang yang peduli tanpa terasa pretensius. Adegan di rumah sakit mental, pelatihan X-Force yang gagal total, atau klimaks di gedung tinggi menjadi highlight yang penuh tawa sekaligus haru. Breaking the fourth wall digunakan secara cerdas—bukan sekadar gimmick, melainkan cara Wade mengatasi rasa sakitnya. Meski beberapa subplot terasa terburu-buru, pacing keseluruhan tetap cepat dan tidak pernah membosankan. Post-credit scenes juga menjadi salah satu yang paling lucu dan mengharukan, memberikan penutup yang sempurna untuk cerita ini.

Kesimpulan

Deadpool 2 berhasil menjadi sekuel yang lebih baik dari film pertama dalam hal keseimbangan antara humor kasar, aksi kreatif, dan kedalaman emosional. Ryan Reynolds membawa Wade Wilson ke level baru—masih konyol, tapi kini punya hati yang lebih besar. Dengan visual yang gila, performa aktor yang penuh chemistry, dan narasi yang berani menyentuh tema berat tanpa kehilangan tawa, film ini memberikan hiburan R-rated yang lengkap. Hampir tujuh tahun kemudian, Deadpool 2 masih terasa segar sebagai contoh bagaimana superhero bisa lucu, brutal, dan menyentuh sekaligus. Ia bukan hanya tentang kekerasan dan lelucon meta, melainkan tentang menemukan keluarga di tengah kekacauan hidup. Bagi siapa saja yang menyukai komedi dewasa dengan jiwa, film ini tetap salah satu yang paling layak ditonton ulang—penuh tawa, air mata, dan momen tak terlupakan. Deadpool 2 membuktikan bahwa pahlawan terbaik kadang datang dengan mulut paling kotor dan hati paling besar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *