Review Film Dear Nathan. Film Dear Nathan yang dirilis pada 2017 kembali ramai dibahas di awal 2026. Kisah romansa remaja ini sering ditayangkan ulang di televisi dan platform digital, membangkitkan nostalgia bagi penggemar genre coming of age. Diadaptasi dari novel populer karya Erisca Febriani, film ini sukses menarik sekitar 700 ribu penonton saat pertama tayang, menjadikannya salah satu drama remaja Indonesia yang digemari. Kini, cerita Nathan dan Salma masih relevan, terutama bagi generasi muda yang suka romansa polos tapi penuh konflik. BERITA BOLA
Plot dan Karakter Utama: Review Film Dear Nathan
Cerita dimulai saat Salma, siswi pindahan pintar dan disiplin, terlambat masuk sekolah di hari pertama. Ia bertemu Nathan, pemuda berandalan yang sering berkelahi dan nakal. Awalnya Salma menjauh, tapi perlahan Nathan mendekatinya dengan cara unik, membuat hati Salma luluh. Konflik muncul dari masa lalu Nathan, termasuk mantan pacar yang kembali, serta perjuangan Nathan berubah demi Salma.
Jefri Nichol memerankan Nathan dengan karisma bad boy yang natural, sementara Amanda Rawles sebagai Salma tampil lugu tapi tegas. Karakter pendukung seperti teman sekolah dan keluarga menambah warna persahabatan serta drama keluarga. Chemistry kedua pemeran utama kuat, membuat penonton ikut baper dengan proses jatuh cinta yang gradual dan relatable.
Elemen Nostalgia dan Romantis: Review Film Dear Nathan
Dear Nathan unggul dalam menggambarkan kehidupan SMA era 2010-an, dari seragam putih abu-abu, upacara bendera, hingga interaksi remaja tanpa gadget berlebih. Romansa di sini sederhana, fokus pada perubahan karakter Nathan dari nakal menjadi lebih baik karena cinta. Adegan manis seperti pendekatan Nathan dan momen hujan di akhir terasa hangat tanpa berlebihan.
Disutradarai Indra Gunawan, film ini menyajikan tempo santai dengan dialog natural yang mudah diingat. Musik pendukung ringan memperkuat nuansa remaja, membuat cerita terasa membumi dan jauh dari drama berat. Elemen ini yang membuat film timeless, cocok untuk nostalgia masa sekolah.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena chemistry Jefri Nichol dan Amanda Rawles yang hidup, serta pesan tentang perubahan positif melalui cinta. Banyak penonton merasa relate dengan konflik remaja, plus humor ringan dari situasi sekolah. Kesuksesan box office membuktikan daya tariknya sebagai romansa remaja berkualitas.
Namun, beberapa kritik bilang plot agak klise dengan konflik mendadak, serta bagian tengah terasa lambat. Pengembangan karakter pendukung kurang dalam, membuat sebagian adegan predictable. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi kesan keseluruhan sebagai drama menghibur.
Kesimpulan
Dear Nathan tetap jadi favorit romansa remaja Indonesia yang abadi di awal 2026 ini. Kisah Nathan dan Salma mengingatkan bahwa cinta bisa mengubah seseorang, meski penuh rintangan sederhana. Dengan akting memikat dan nuansa nostalgia kuat, film ini layak ditonton ulang untuk merasakan kembali degupan hati masa SMA. Secara keseluruhan, ini adalah karya ringan tapi berkesan, cocok bagi siapa saja yang suka cerita cinta polos dengan akhir manis.

