Review Film Mortuary. Di akhir 2025, film Mortuary (2005) masih sering dibahas sebagai salah satu karya akhir Tobe Hooper yang kontroversial dan campur aduk. Cerita ikuti keluarga Doyle—janda Leslie dan dua anaknya—yang pindah ke kota kecil California untuk jalankan rumah duka tua yang sudah lama ditinggalkan. Harapan mulai hidup baru cepat berubah jadi mimpi buruk saat legenda lokal tentang anak cacat bernama Bobby Fowler dan jamur hitam misterius mulai jadi kenyataan, lengkap dengan infeksi zombie dan teror supernatural. Dengan elemen gore, zombie, dan setting morgue gelap, film ini coba kembalikan vibe horor rural Hooper, tapi hasilnya sering disebut sebagai guilty pleasure yang penuh kekurangan. BERITA BOLA
Plot yang Campur Aduk dan Penuh Elemen Horor: Review Film Mortuary
Premis awal sederhana tapi menjanjikan: keluarga baru di rumah duka angker, ditambah legenda Bobby Fowler yang hilang setelah bunuh orang tuanya. Anak laki-laki Jonathan temukan teman lokal, pesta narkoba, dan rahasia desa, sementara ibunya mulai embalming mayat pertama. Twist muncul saat darah tumpah picu jamur hitam yang infeksi orang jadi zombie—vomiting ooze hitam, mata kosong, dan serangan ganas. Alur campur slasher remaja, zombie outbreak, dan monster fungus di terowongan bawah tanah. Build-up cukup tegang di morgue sempit, tapi pacing lambat di tengah dan CGI monster akhir terasa murahan. Ending penuh aksi dengan garam sebagai senjata anti-zombie, tapi twist terakhir agak cheesy dan tak perlu.
Akting dan Atmosfer yang Menjadi Penyelamat: Review Film Mortuary
Akting jadi salah satu yang lumayan: Dan Byrd sebagai Jonathan beri performa remaja sarkastik yang relatable, Denise Crosby sebagai ibu tunjukkan ketangguhan tapi rapuh, sementara karakter pendukung seperti teman-teman lokal beri energi liar yang bikin muak tapi menghibur. Atmosfer morgue rundown, kuburan berantakan, dan kota kecil sepi berhasil ciptakan rasa terisolasi—hujan deras, lampu redup, dan suara creak laci mayat tambah mencekam. Makeup zombie praktis cukup bagus di awal, gore seperti muntah ooze hitam dan potong tubuh beri rasa jijik. Namun, CGI fungus dan creature akhir rusak mood, terasa outdated dan konyol.
Kelebihan serta Kelemahan yang Jelas
Film ini punya momen Hooper klasik: rural horror, keluarga terjebak di tempat angker, dan gore organik. Beberapa adegan embalming realistis dan infeksi perlahan beri ketegangan psikologis. Tapi kelemahan banyak: plot hole seperti kenapa ibu tiba-tiba jadi mortician, karakter stereotip, dialog cringey, dan shift tone dari misteri jadi zombie chaos yang tak mulus. CGI buruk di klimaks hancurkan suspense, pacing tak konsisten, dan ending terasa dipaksakan. Meski begitu, absurditasnya bikin jadi “so bad it’s good” bagi penggemar B-movie.
Kesimpulan
Mortuary (2005) jadi horor zombie morgue yang campur aduk di akhir 2025, dengan atmosfer tegang dan gore fun, tapi rusak oleh CGI murahan, plot berantakan, dan pacing lambat. Cocok buat penggemar Tobe Hooper yang ingin lihat karya akhirnya atau B-movie 2000-an dengan vibe 80-an—entertaining sebagai guilty pleasure malam santai. Meski jauh dari klasik seperti Texas Chainsaw, film ini tetap beri chills morgue dan zombie infeksi yang memorable. Rekomendasi ringan untuk yang tak ekspektasi tinggi—bisa jadi tawa bareng teman sambil komentar absurditasnya. Film yang tak sempurna, tapi punya pesona cult tersendiri.

