Review Film Bioskop Dust Bunny. Dust Bunny, debut fitur sutradara Bryan Fuller (pencipta Hannibal dan Pushing Daisies), baru rilis di bioskop pada 12 Desember 2025 dan langsung jadi pembicaraan karena premis uniknya: seorang gadis kecil menyewa pembunuh bayaran untuk bunuh monster di bawah tempat tidurnya. Dibintangi Mads Mikkelsen sebagai hitman misterius, Sophie Sloan sebagai Aurora si gadis pemberani, dan Sigourney Weaver sebagai handler licik, review film berdurasi 106 menit ini campur dark fairy tale, action thriller, dan horor fantasi. Dengan rating Rotten Tomatoes 84% dan Metacritic 73, respons umum positif: visually stunning dan imaginative, meski pacing kadang uneven. Ini bukan horor gore berat, tapi twisted storybook yang bikin mikir soal monster dalam dan luar diri.
Plot dan Gaya Sutradara Film Dust Bunny
Cerita fokus pada Aurora, gadis 8-10 tahun yang yakin monster “dust bunny” makan keluarganya. Ia rekrut tetangga misterius (Mikkelsen) yang ternyata hitman pro, untuk bantu lawan makhluk itu—sambil hadapi assassin lain dan handler Weaver yang tak ramah. Fuller bangun dunia quirky ala Amélie atau Tim Burton: pastel decayed, symmetrical shots, dan wide-angle yang bikin apartemen Aurora terasa seperti dongeng gelap. Awal hampir tanpa dialog, bangun misteri apakah monster real atau imajinasi, lalu meledak jadi action brutal dengan efek praktis monster yang “Muppet from hell”—lucu sekaligus unnerving.
Gaya Fuller khas: homage 80s-90s genre seperti Gremlins atau Tremors, campur slapstick dengan violence. Final battle staged brilian, edit Lisa Lassek cepat dan homage man-vs-beast klasik. Tapi pacing awal lambat, dialog minimal bikin skitter, dan shift ke action kadang abrupt—bikin terasa light di awal, explosive di akhir.
Performa Aktor Film Dust Bunny dan Elemen Visual
Mads Mikkelsen dan Sophie Sloan jadi magnet utama: chemistry mereka magnetic, Mikkelsen tender di balik deadpan, Sloan wide-eyed innocent tapi brave—bawa film ini naik level. Sigourney Weaver chomp scene sebagai handler wolfish, David Dastmalchian overconfident killer, Sheila Atim unflappable agent—semua solid meski supporting. Visual gorgeous: production design Jeremy Reed ornate dengan pattern explosion, cinematography Nicole Hirsch Whitaker warm lighting kontras kegelapan, bikin setiap frame seperti lukisan storybook. Creature design tactile, gore restrained (R rating untuk violence, bukan bloodbath), soundtrack Isabella Summers campur whimsical dengan intense.
Kekurangan: beberapa pun cheesy, monster reveal kadang murahan, dan tema parenting/monsters kurang dalam—lebih style over substance.
Kesimpulan
Dust Bunny adalah debut Fuller yang dazzling dan imaginative: twisted fairy tale yang elevate chemistry Mikkelsen-Sloan jadi heartwarming di tengah mayhem. Visually sumptuous, fun homage genre, dan pesan soal purge monsters hidup elevates dari B-movie biasa. Meski pacing uneven dan kurang depth, ini gateway horror stylish yang layak bioskop—skor 7.5/10. Di akhir 2025 penuh franchise, ini orisinal gem yang bikin wonder: monster mana yang lebih nyata, di bawah tempat tidur atau di hati? Wajib buat fans Fuller atau dark whimsy—jangan lewatkan sebelum hilang dari layar besar.

