Review Film Perfect Days: Kehidupan Sederhana yang Indah

Review Film Perfect Days: Kehidupan Sederhana yang Indah

Review Film Perfect Days: Kehidupan Sederhana yang Indah. Perfect Days karya Wim Wenders yang tayang perdana pada 2023 (dan rilis luas 2024) tetap menjadi salah satu film paling tenang sekaligus paling menyentuh dalam beberapa tahun terakhir. Film ini mengikuti Hirayama (Kōji Yakusho), seorang petugas kebersihan toilet umum di Tokyo yang menjalani rutinitas harian yang sangat teratur: bangun pagi, merawat tanaman, mendengarkan kaset musik klasik dan rock 60-an-70-an di mobil van-nya, bekerja dengan teliti, membaca buku di malam hari, dan mengulang semuanya esok hari. Dengan durasi sekitar 123 menit, Wenders menciptakan potret kehidupan sederhana yang indah tanpa dialog berlebih, tanpa konflik dramatis besar—hanya pengamatan halus terhadap kebahagiaan kecil yang sering terlewatkan. Hampir tiga tahun kemudian, di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban dan tekanan produktivitas pada 2026, Perfect Days terasa seperti obat penenang yang langka: sebuah pengingat bahwa hidup yang “sederhana” bisa jauh lebih kaya daripada yang kita bayangkan. REVIEW FILM

Sinematografi dan Ritme yang Tenang di Film Perfect Days: Review Film Perfect Days: Kehidupan Sederhana yang Indah

Wim Wenders dan sinematografer Franz Lustig membangun film ini dengan gaya yang sangat minimalis dan penuh perhatian. Hampir setiap adegan difilmkan dengan cahaya alami—pagi yang lembut di apartemen kecil Hirayama, sinar matahari yang menyelinap melalui daun pohon saat ia membersihkan toilet, atau cahaya senja saat ia duduk di taman. Kamera sering diam lama pada detail kecil: air mengalir di wastafel, daun yang jatuh perlahan, atau ekspresi wajah Hirayama yang tenang saat mendengarkan Patti Smith atau The Velvet Underground di mobilnya. Tidak ada musik latar yang memaksa; suara alam, langkah kaki, dan lagu-lagu dari kaset menjadi “soundtrack” hidup Hirayama. Ritme film yang lambat—tanpa adegan aksi atau plot twist—membuat penonton merasakan waktu yang sama seperti karakter: hari yang berulang, tapi setiap hari punya keindahan kecil yang berbeda. Teknik ini bukan kebetulan; Wenders sengaja ingin penonton “hidup” bersama Hirayama, bukan hanya menyaksikan.

Tema Kehidupan Sederhana, Keindahan Kecil, dan Penerimaan Diri di Film Perfect Days

Inti Perfect Days adalah perayaan atas kehidupan yang sederhana dan penuh kesadaran. Hirayama tidak punya ambisi besar, tidak punya media sosial, tidak punya drama keluarga yang rumit—ia hanya menjalani hari dengan penuh perhatian: menyapa pohon yang ia rawat setiap pagi, memotret bayangan daun, membaca buku sastra klasik di malam hari. Kunjungan mendadak dari keponakannya (yang kabur dari rumah), atau pertemuan singkat dengan rekan kerja dan orang asing, menjadi “gangguan” kecil yang justru memperkaya rutinitasnya. Film ini tidak menghakimi gaya hidup Hirayama sebagai “miskin” atau “kurang ambisi”; sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali ada pada hal-hal kecil yang diabaikan orang lain: secangkir kopi pagi, lagu favorit di kaset tua, atau senyum dari orang yang baru dikenal. Di era sekarang, ketika banyak orang merasa terjebak dalam chase produktivitas, hustle culture, dan FOMO, Perfect Days terasa seperti undangan lembut untuk melambat, memperhatikan, dan menemukan keindahan dalam rutinitas yang dianggap “biasa”.

Warisan dan Pengaruh yang Terus Bertahan: Review Film Perfect Days: Kehidupan Sederhana yang Indah

Perfect Days mendapat nominasi Oscar untuk Best International Feature Film dan Best Actor (Kōji Yakusho), serta memenangkan banyak penghargaan di festival internasional. Kōji Yakusho—yang hampir tidak berbicara sepanjang film—mendapat pujian luas karena mampu menyampaikan emosi hanya lewat ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Film ini menjadi salah satu karya yang paling sering direkomendasikan sebagai “film penyembuh” atau “slow living inspiration” di media sosial. Di 2026, ketika tren mindfulness, digital detox, dan pencarian makna hidup semakin kuat, Perfect Days sering muncul kembali di playlist “calm films” atau rekomendasi untuk orang yang merasa burnout. Pengaruhnya terasa di banyak film dan serial yang kemudian mengeksplorasi tema kesederhanaan dan kehadaran—dari karya-karya indie hingga konten slow living di YouTube dan TikTok.

Kesimpulan

Perfect Days adalah film yang berhasil menemukan keindahan luar biasa dalam kehidupan yang paling sederhana—sebuah potret lembut tentang rutinitas, perhatian penuh, dan penerimaan diri tanpa ambisi besar. Wim Wenders dan Kōji Yakusho menciptakan karya yang tenang tapi sangat kuat: tanpa dialog panjang, tanpa konflik besar, tapi penuh makna tentang apa yang sebenarnya membuat hidup berharga. Hampir tiga tahun berlalu, film ini masih relevan karena mengajak kita melambat di dunia yang terus berlari—memperhatikan cahaya pagi, mendengarkan lagu lama, atau sekadar tersenyum pada hari yang “biasa”. Jika Anda sedang merasa lelah atau kehilangan arah hari ini, carilah Perfect Days—matikan notifikasi, duduklah tenang, dan biarkan film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali ada pada hal-hal kecil yang selama ini kita abaikan. Karena seperti yang Hirayama lakukan setiap hari: hidup sederhana bisa menjadi hidup yang paling indah. Sebuah film yang tak hanya indah, tapi juga menyembuhkan.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *