review-film-mufasa-the-lion-king-layak-nonton

Review Film Mufasa: The Lion King – Layak Nonton?

Review Film Mufasa: The Lion King – Layak Nonton? Mufasa: The Lion King, prequel musikal animasi dari Disney yang tayang sejak 20 Desember 2024, akhirnya membawa kita kembali ke Pride Lands dengan cerita asal-usul Mufasa yang selama ini hanya disinggung sekilas. Disutradarai Barry Jenkins (Moonlight), film ini menggabungkan visual photorealistic canggih, lagu-lagu baru dari Lin-Manuel Miranda, dan narasi yang lebih emosional dibandingkan live-action The Lion King 2019. Aaron Pierre mengisi suara Mufasa muda dengan karisma kuat, sementara Kelvin Harrison Jr. sebagai Taka (yang kelak jadi Scar) membawa nuansa kompleks. Dengan durasi sekitar 1 jam 59 menit, film ini mengeksplorasi persahabatan, pengkhianatan, dan perjuangan naik tahta di antara dua singa yatim piatu. Meski box office-nya solid dengan total global lebih dari $700 juta, respons terbelah: visual memukau dan performa vokal dipuji, tapi banyak yang bilang ceritanya kurang inovatif. Layak ditonton? Dari apa yang terlihat, ya—terutama jika kamu penggemar franchise ini atau haus cerita emosional dengan visual spektakuler.  BERITA TERKINI

Kekuatan Utama Film Musafa-The Lion King: Visual Spektakuler dan Emosi yang Menyentuh

Yang paling bikin Mufasa menonjol adalah pencapaian teknisnya. Teknologi photoreal Disney semakin maju: bulu singa bergerak realistis, savana Afrika terasa hidup dengan detail cahaya matahari, hujan, dan angin. Adegan stampede, pertarungan singa, dan momen dramatis seperti Mufasa melompat ke air terasa epik di layar lebar, terutama IMAX. Barry Jenkins membawa sentuhan sinematiknya: komposisi frame indah, warna hangat yang kontras dengan momen gelap, membuat film terasa lebih artistik daripada sekadar remake. Aaron Pierre memberikan suara Mufasa yang powerful dan hangat—dia berhasil membuat kita percaya ini singa yang layak jadi raja. Kelvin Harrison Jr. sebagai Taka/Scar muda menambah kedalaman: ambisi dan rasa iri yang tumbuh perlahan terasa tragis, bukan sekadar villain karikatur. Lagu-lagu Lin-Manuel Miranda seperti “Tell Me It’s You” dan “I Always Wanted a Brother” punya momen emosional yang kuat, meski tak seikonik “Circle of Life”. Chemistry antara Mufasa, Taka, dan karakter pendukung seperti Sarabi (muda) serta Rafiki (Anika Noni Rose sebagai narator) membuat cerita persahabatan mereka terasa autentik dan menyentuh.

Kelemahan Film musafa-The Lion King: Cerita yang Terlalu Familiar dan Kurang Berani

Sayangnya, Mufasa tak sepenuhnya lepas dari kritik. Banyak yang merasa ceritanya terlalu mirip pola klasik Disney: yatim piatu, pengkhianatan saudara, perjuangan naik tahta—mirip The Lion King asli tapi dibalik. Twist dan backstory Scar terasa predictable bagi penggemar lama, dan beberapa momen terasa dipaksakan untuk menjelaskan “kenapa Scar jadi jahat”. Pacing agak lambat di bagian tengah, terutama saat membangun hubungan Mufasa-Taka, yang membuat durasi terasa panjang. Lagu-lagu baru bagus tapi tak sekuat soundtrack asli 1994, dan elemen musikalnya kadang terasa kurang terintegrasi dengan aksi. Beberapa kritikus bilang Jenkins terlalu berhati-hati agar tak menyimpang jauh dari canon, sehingga film kehilangan kesempatan untuk benar-benar inovatif. Skor Rotten Tomatoes sekitar 58-62% dari kritikus (disebut “serviceable but safe”), sementara audience lebih tinggi di kisaran 85-88%, menunjukkan film ini lebih disukai keluarga dan fans franchise daripada penonton umum.

Kesan Keseluruhan dan Rekomendasi: Review Film Mufasa: The Lion King – Layak Nonton?

Secara keseluruhan, Mufasa: The Lion King adalah prequel yang layak ditonton, terutama jika kamu menikmati visual photoreal dan cerita emosional tentang keluarga serta pengkhianatan. Barry Jenkins berhasil memberikan nuansa lebih dewasa dan artistik, dengan performa vokal Aaron Pierre serta Kelvin Harrison Jr. yang kuat. Ini bukan film revolusioner seperti The Lion King 1994, tapi cukup menghibur sebagai tambahan canon yang indah secara visual. Cocok untuk ditonton bersama keluarga di bioskop besar agar efek savana dan stampede terasa maksimal. Bagi yang skeptis dengan live-action Disney, ini salah satu yang lebih baik dibanding beberapa remake sebelumnya—setidaknya punya hati dan ambisi sinematik.

Kesimpulan: Review Film Mufasa: The Lion King – Layak Nonton?

Mufasa: The Lion King layak ditonton sebagai prequel yang visually stunning dan emosional, meski ceritanya tak terlalu berani. Dengan Aaron Pierre yang karismatik sebagai Mufasa muda, visual photoreal memukau, dan arahan Barry Jenkins yang artistik, film ini berhasil jadi tambahan yang menghibur untuk franchise ikonik Disney. Meski ada catatan soal pacing dan originalitas, kekuatan emosi serta spectacle-nya membuatnya pantas dilihat di bioskop. Jika kamu suka The Lion King atau sekadar ingin petualangan savana yang indah, ini pilihan yang solid untuk akhir tahun atau awal 2026. Circle of life terus berputar—dan Mufasa punya cerita sendiri yang layak didengar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *